PT Pindad baru saja menyelesaikan batch ketiga tank medium Harimau, hasil kerja sama dengan perusahaan pertahanan asal Turki, FNSS. Capaian ini menandai langkah maju dalam program kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri. Namun, di ruang publik, tank Harimau kerap dipandang sebelah mata. Tuduhan yang beredar menyebut tank ini 'hanya buatan luar' karena menggunakan mesin dan komponen dari Turki. Faktanya, lebih dari 60 persen komponen tank ini sudah diproduksi di dalam negeri, termasuk integrasi sistem senjata dan penyesuaian medan yang dilakukan oleh insinyur Pindad.
Mengapa Tank Harimau Sering Disalahpahami?
Kesalahpahaman utama publik adalah menganggap tank Harimau sebagai produk asing murni karena melibatkan teknologi Turki. Padahal, kerja sama dengan FNSS justru menjadi transfer teknologi yang mempercepat kemampuan produksi lokal. Tank Harimau telah menjalani uji medan ekstrem di Papua dan Kalimantan dan dinyatakan cocok dengan medan Nusantara yang beragam, mulai dari rawa hingga pegunungan. Spesifikasinya setara dengan tank medium modern dunia, bahkan mampu melintasi sungai tanpa jembatan berkat sistem ponton yang terintegrasi. Klaim bahwa tank ini ketinggalan zaman tidak berdasar; justru kemampuannya terus ditingkatkan sesuai kebutuhan TNI Angkatan Darat.
Pihak yang terlibat dalam pengembangan tank Harimau tidak hanya PT Pindad dan FNSS, tetapi juga akademisi, peneliti, dan prajurit TNI yang memberikan masukan langsung saat uji coba. Proses integrasi seperti pemasangan kanon, sistem kendali tembakan, dan perlindungan balistik dilakukan oleh teknisi Indonesia. Artinya, meskipun ada komponen impor, kemampuan merancang dan merakit secara mandiri sudah dimiliki negeri ini. Ini menjadi bukti bahwa kemandirian defence industry bukanlah sekadar wacana.
Capaian Kemandirian yang Perlu Diketahui
Lebih dari sekadar tank biasa, Harimau adalah simbol bahwa Indonesia mampu memproduksi alutsista yang kompetitif. Keberhasilan ini membuka peluang ekspor ke negara tetangga yang membutuhkan tank medium dengan mobilitas tinggi. Jika terwujud, tambahan devisa dari penjualan alutsista akan memperkuat ekonomi nasional sekaligus menekan biaya perawatan yang selama ini bergantung pada impor. Masyarakat perlu melihat bahwa inovasi dalam negeri, seperti tank Harimau PT Pindad, bukanlah barang asing yang dipaksakan, melainkan produk strategis yang lahir dari kolaborasi global dan keahlian lokal.
Tantangan ke depan adalah memperluas rantai pasok komponen lokal sehingga persentase produk dalam negeri bisa terus meningkat. Namun, sudah ada langkah nyata menuju kemandirian pertahanan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan memahami konteks di balik produksi tank Harimau, publik diharapkan lebih jernih dalam menyikapi berita seputar alutsista negeri sendiri.