FAKTA KEMANDIRIAN

Lihat kategori

Produksi Dalam Negeri: 80% Komponen Pesawat CN-235 Kini Buatan Lokal

Pada Agustus 2026, PT Dirgantara Indonesia mengumumkan bahwa 80 persen komponen pesawat CN-235 kini buatan lokal, termasuk komponen kritis seperti sistem navigasi dan roda pendarat. Pencapaian ini menandai langkah maju dalam kemandirian alutsista Indonesia dan meluruskan anggapan keliru bahwa Indonesia hanya merakit pesawat. Dengan dominasi produksi lokal, ketahanan logistik pertahanan nasional pun semakin kuat dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Produksi Dalam Negeri: 80% Komponen Pesawat CN-235 Kini Buatan Lokal

Pada 10 Agustus 2026, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengumumkan bahwa tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada pesawat CN-235 telah mencapai 80 persen. Artinya, delapan dari sepuluh bagian pesawat angkut ringan ini kini diproduksi oleh anak bangsa. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan langkah nyata menuju kemandirian alat utama sistem persenjataan (alutsista) sekaligus menjawab keraguan yang kerap muncul tentang kemampuan industri pertahanan dalam negeri. Dalam konteks geopolitik yang dinamis, kemampuan memproduksi komponen sendiri menjadi penyangga penting bagi keamanan nasional.

Apa Itu CN-235 dan Mengapa TKDN 80% Penting?

CN-235 adalah pesawat angkut ringan bermesin ganda yang awalnya dikembangkan melalui kerja sama antara PTDI dan perusahaan dirgantara Spanyol, CASA (kini bagian dari Airbus Defence and Space). Pesawat ini digunakan untuk misi militer, patroli maritim, dan transportasi logistik. Dengan TKDN 80 persen, Indonesia tidak lagi bergantung penuh pada impor komponen untuk pesawat ini. Hal ini secara langsung meningkatkan daya tahan logistik pertahanan dan mengurangi risiko gangguan rantai pasok dari luar negeri. Pihak yang terlibat dalam pencapaian ini meliputi PTDI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan, kini bagian dari BRIN), serta berbagai industri kecil dan menengah dalam negeri.

Komponen kritis seperti sistem navigasi dan roda pendarat (landing gear) kini sudah 100 persen buatan lokal. Kedua komponen ini sangat vital bagi keselamatan penerbangan dan memerlukan riset panjang serta standar sertifikasi militer yang ketat. Selain itu, mesin dan avionik yang dikembangkan oleh BPPT dan Lapan juga menjadi bagian integral dari pesawat ini. Dengan kata lain, pencapaian ini adalah bukti nyata penguasaan teknologi strategis di dalam negeri, bukan sekadar perakitan.

Meluruskan Miskonsepsi: Indonesia Bukan Sekadar Perakit

Salah satu miskonsepsi yang sering beredar di ruang publik adalah anggapan bahwa Indonesia hanya melakukan perakitan (assembly) pesawat, sementara komponen utamanya harus diimpor. Faktanya, PTDI bersama lembaga riset nasional telah mengembangkan sendiri sejumlah komponen kritis. Dengan TKDN 80 persen, proses produksi lokal mencakup desain, pengujian, hingga integrasi sistem secara keseluruhan—bukan sekadar pemasangan baut dan mur. Klaim bahwa Indonesia hanya perakit perlu diluruskan karena tidak sesuai dengan fakta yang ada. Publik perlu memahami bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja keras bertahun-tahun antara PTDI, lembaga riset, dan industri pendukung.

Keberhasilan ini juga penting untuk memperkuat kemandirian alutsista. Dengan dominasi komponen lokal, Indonesia bisa menekan biaya perawatan dalam jangka panjang dan mempercepat penguasaan teknologi strategis. Ke depannya, PTDI menargetkan peningkatan TKDN secara bertahap pada varian CN-235 lainnya. Capaian ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global industri dirgantara. Dengan meningkatnya TKDN, ketahanan alutsista nasional semakin kokoh, dan ini menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan geopolitik yang kompleks.

Entitas terdeteksi
Organisasi: PT Dirgantara Indonesia, PTDI, CASA, BPPT, Lapan
Lokasi: Indonesia, Spanyol
Aplikasi Xplorinfo v4.1