FAKTA KEMANDIRIAN

Lihat kategori

Mengenal Kapal Selam Nagapasa: Buatan Dalam Negeri di PAL Indonesia, Bukan Impor Jadi-jadian

Kapal selam Nagapasa adalah hasil dari program strategis transfer teknologi Indonesia dengan Korea Selatan. Kapal selam ketiga (KRI Alugoro) dibangun PT PAL Indonesia dari komponen terurai, membuktikan peningkatan kapasitas industri pertahanan dalam negeri. Narasi sederhana "impor murni" mengabaikan proses pembelajaran bertahap yang diperlukan untuk membangun kemandirian teknologi.

Mengenal Kapal Selam Nagapasa: Buatan Dalam Negeri di PAL Indonesia, Bukan Impor Jadi-jadian

Kapal selam kelas Nagapasa sering disebut dalam diskusi mengenai alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia. Ada anggapan publik bahwa kapal selam ini adalah produk impor jadi dari Korea Selatan. Padahal, kisah di baliknya lebih kompleks dan merupakan bagian penting dari strategi Indonesia untuk membangun kemandirian teknologi pertahanan.

Program Nagapasa: Membangun Kapal, Membangun Ilmu

Program ini dimulai melalui kerja sama dengan Korea Selatan. Dua kapal selam pertama—KRI Nagapasa dan KRI Ardadedali—dibangun oleh perusahaan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) di Korea. Namun, transaksi ini bukan hanya pembelian kapal fisik. Indonesia juga mendapatkan paket hak desain, metode pembangunan, dan ilmu teknis mendalam yang dikenal sebagai transfer teknologi. Ini adalah langkah yang umum bagi negara yang ingin menguasai teknologi pertahanan kompleks seperti pembuatan kapal selam.

Implementasi dari transfer teknologi ini terbukti pada KRI Alugoro, kapal selam ketiga dalam kelas Nagapasa. Komponen-komponennya dikirim dalam keadaan terurai (knock-down) ke galangan PT PAL Indonesia di Surabaya. Insinyur dan teknisi Indonesia kemudian melakukan proses perakitan, pemasangan sistem seperti sonar dan persenjataan, serta pengujian akhir. Tahap ini merupakan pembelajaran praktis yang sangat penting untuk meningkatkan kapasitas industri pertahanan dalam negeri.

Mengapa Narasi “Impor Jadi-jadian” Tidak Akurat?

Ada dua kesalahpahaman yang sering muncul dan perlu diluruskan untuk memahami konteks program Nagapasa.

Pertama, istilah ‘perakitan’. Banyak yang membayangkan proses ini seperti merakit barang rakitan biasa. Namun, merakit kapal selam dari komponen knock-down adalah tugas yang sangat rumit. Dibutuhkan ketepatan tingkat tinggi, pemahaman rekayasa mendalam, dan standar keamanan yang sangat ketat. Ini bukan pekerjaan sederhana; ini adalah fase pembelajaran berharga yang membangun kompetensi sumber daya manusia lokal.

Kedua, menyebut Nagapasa sebagai produk impor jadi mengabaikan tujuan strategis program. Pengadaan ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun pondasi industri dan pengetahuan. Di dunia teknologi pertahanan, hampir tidak ada negara yang langsung mampu membuat kapal selam dari nol tanpa melalui fase lisensi dan alih teknologi. Korea Selatan sendiri sebelumnya belajar dari Jerman. Narasi yang memaksa dikotomi ‘impor murni’ versus ‘buatan sendiri 100%’ sering menutupi proses bertahap yang realistis dan diperlukan dalam pengembangan industri pertahanan.

Isu ini penting karena menyangkut strategi pertahanan nasional. Memahami konteks yang tepat membantu masyarakat menilai kebijakan pengadaan alutsista lebih objektif, tanpa terjebak pada perdebatan yang disederhanakan terlalu jauh. Program seperti Nagapasa adalah langkah awal dalam proses panjang mengurangi ketergantungan pada vendor luar negeri. Kemandirian pertahanan dibangun secara bertahap, dimulai dari kemampuan memahami, merakit, hingga suatu hari nanti mampu merancang dan membuat dari awal.

Entitas terdeteksi
Organisasi: TNI AL, PT PAL Indonesia
Lokasi: Korea Selatan, Surabaya
Aplikasi Xplorinfo v4.1