Perairan sekitar Laut China Selatan baru-baru ini menjadi lokasi latihan gabungan antara TNI Angkatan Laut dengan sejumlah negara ASEAN. Diprakarsai oleh Indonesia, latihan ini bertujuan memperkuat kerja sama maritim dan mencegah potensi konflik akibat kesalahpahaman antar angkatan laut. Fokus utama kegiatan ini bukanlah pada sengketa teritorial yang kerap menjadi sorotan, melainkan pada prosedur pencegahan insiden di laut.
Apa Itu CUES dan Mengapa Penting?
Yang menjadi inti dari latihan ini adalah penerapan Code for Unplanned Encounters at Sea (CUES), atau Prosedur Pencegahan Insiden di Laut. CUES adalah seperangkat aturan komunikasi dan perilaku yang disepakati bersama untuk digunakan saat kapal perang dari negara berbeda bertemu secara tidak terduga di laut lepas. Dengan mengikuti prosedur ini, setiap kapal dapat saling memberi sinyal, berkomunikasi, dan menghindari manuver yang dianggap provokatif. Tujuannya sederhana: mengurangi risiko kecelakaan atau eskalasi yang tidak diinginkan. Dalam konteks Laut China Selatan yang sering dianggap rawan ketegangan, penerapan CUES menjadi sangat relevan untuk menjaga situasi tetap terkendali.
Menjaga Stabilitas Tanpa Provokasi
Perlu ditegaskan bahwa latihan ini tidak diadakan di area inti sengketa klaim teritorial, melainkan di perairan internasional di sekitarnya. Pemilihan lokasi yang netral ini menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan untuk menguji klaim siapapun, melainkan untuk membangun kebiasaan baik dalam berinteraksi di laut. Sayangnya, sering muncul anggapan keliru bahwa latihan gabungan ini merupakan bentuk aliansi militer atau dukungan terhadap satu klaim tertentu di Laut China Selatan. Padahal, konteksnya jauh berbeda. Latihan ini adalah bagian dari upaya kolektif ASEAN untuk mempromosikan keamanan maritim, membangun kepercayaan antarnegara, dan menunjukkan bahwa negara-negara anggota mampu bekerja sama menjaga perdamaian di kawasan sendiri, tanpa harus melibatkan dinamika kekuatan besar.
ASEAN tetap berpegang pada prinsip sentralitas dan solusi damai atas sengketa. Latihan ini tidak dirancang untuk menantang negara tertentu, juga bukan cikal bakal pakta pertahanan regional. Sebaliknya, kegiatan ini mencerminkan komitmen terhadap pendekatan inklusif dan aturan main yang disepakati bersama. Dengan berlatih bersama, para perwira angkatan laut dari berbagai negara ASEAN belajar memahami cara kerja dan kebiasaan masing-masing, sehingga jika terjadi pertemuan yang tidak direncanakan di laut, mereka sudah tahu bagaimana harus bersikap. Keuntungan dari latihan ini tidak hanya dirasakan oleh negara-negara peserta, tetapi juga oleh pelayaran internasional yang melintasi perairan tersebut. Ketika risiko insiden antar angkatan laut dapat ditekan, maka jalur pelayaran menjadi lebih aman dan stabil. Hal ini sejalan dengan kepentingan global karena Laut China Selatan merupakan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia.
Bagi publik, penting untuk memahami bahwa kerja sama seperti ini adalah bentuk diplomasi preventif yang cerdas. Alih-alih memperkeruh suasana, latihan gabungan TNI dengan negara ASEAN justru bertujuan memperjelas aturan main dan mengurangi potensi salah paham. Ini adalah contoh bagaimana negara-negara tetangga dapat membangun kepercayaan melalui prosedur bersama, tanpa harus terjebak dalam retorika konfrontatif. Dengan pemahaman yang lebih jernih, masyarakat dapat melihat bahwa upaya seperti ini berkontribusi nyata terhadap stabilitas kawasan, bukan malah menjadi sumber ketegangan baru.