Latihan militer gabungan antara TNI dan pasukan China yang dijadwalkan berlangsung di Jawa Timur pada Agustus 2025 telah menimbulkan beragam tanggapan di publik. TNI telah memberikan klarifikasi bahwa kegiatan ini adalah bagian dari latihan rutin dalam kerangka kerja sama multilateral. Memahami latar belakang, tujuan, dan konteksnya sangat penting agar masyarakat tidak terjebak pada narasi yang keliru atau berlebihan.
Apa Itu Program ASEAN Plus?
Partisipasi China dalam latihan ini tidak bisa dilihat secara terpisah. Kegiatan ini merupakan bagian dari skema besar bernama ASEAN Plus. Dalam forum ini, negara-negara anggota ASEAN secara rutin mengadakan latihan militer bersama dengan mitra dialog mereka. Penting untuk diketahui, mitra dialog ini tidak hanya China, tetapi juga mencakup Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan beberapa negara lainnya.
Tujuan utama dari latihan-latihan dalam kerangka ASEAN Plus ini adalah membangun interoperabilitas—suatu istilah teknis yang dapat dijelaskan sebagai kemampuan untuk berkoordinasi dan bekerja sama secara teknis antar pasukan dari negara yang berbeda. Latihan ini biasanya berfokus pada operasi non-perang, seperti penanganan bencana alam, bantuan kemanusiaan, pencarian dan pertolongan (SAR), serta misi pemeliharaan perdamaian. Intinya, ini lebih merupakan kerja sama untuk kesiapsiagaan kolektif menghadapi tantangan kemanusiaan di kawasan.
Konteks yang Sering Hilang dan Kekhawatiran Publik
Di tengah perbincangan publik, muncul beberapa kekhawatiran yang perlu diluruskan dengan konteks yang tepat.
Pertama, kekhawatiran bahwa kehadiran pasukan asing menandakan pengaruh berlebihan. Faktanya, Indonesia sebagai tuan rumah latihan justru menunjukkan kedaulatan dan kapasitas TNI dalam mengatur seluruh kegiatan sesuai kepentingan nasional. Ini adalah bentuk keterlibatan yang setara.
Kedua, kekhawatiran akan kebocoran informasi atau doktrin rahasia TNI. Latihan multilateral seperti ini memiliki protokol keamanan yang ketat. Kegiatannya dibatasi pada skenario teknis standar untuk operasi kemanusiaan. Tidak ada pertukaran intelijen strategis atau doktrin tempur inti yang sensitif dalam forum seperti ini.
Ketiga, anggapan bahwa Indonesia "memilih pihak". Konteks yang sering luput adalah bahwa diplomasi pertahanan yang sehat justru melibatkan kerja sama dengan banyak pihak. Partisipasi TNI dalam berbagai latihan, termasuk dengan China, adalah perwujudan politik luar negeri bebas-aktif. Sebelumnya, TNI juga rutin melaksanakan latihan serupa dengan negara sahabat lain, seperti AS (latihan Garuda Shield) dan Australia (latihan AUSINDO).
Kerja sama ini adalah salah satu dari banyak jejaring yang dimiliki Indonesia. Kemampuan untuk berlatih dengan berbagai negara, termasuk kekuatan besar, justru meningkatkan profesionalisme TNI dan memperluas jaringan kerja sama Indonesia di panggung global. Memahami konteks ini membantu kita melihat bahwa satu latihan rutin tidak serta-merta mengubah prinsip atau aliansi strategis suatu negara.