Pada Juli 2026, PT Pindad bersama LAPAN memamerkan rudal anti-kapal C-705 di Indo Defence Expo. Rudal ini langsung menjadi sorotan publik sebagai salah satu alutsista kebanggaan nasional. Namun, di tengah antusiasme tersebut, muncul narasi yang menyebutkan bahwa rudal C-705 sepenuhnya buatan Indonesia. Klaim ini perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Sebenarnya, Indonesia melakukan perakitan akhir dan integrasi sistem, sementara komponen kunci seperti seeker radar dan mesin turbojet masih diimpor dari China. Kerja sama ini melibatkan CASC (China Aerospace Science and Industry Corporation), perusahaan industri kedirgantaraan asal China, melalui skema lisensi dan transfer teknologi bertahap. Artinya, Indonesia memiliki hak untuk memproduksi dan merakit, tetapi belum sepenuhnya menguasai desain dasar maupun pembuatan komponen utama secara mandiri. Isu ini penting untuk dipahami karena menyangkut realitas industri pertahanan nasional. Kemandirian alutsista adalah proses jangka panjang yang tidak bisa dicapai secara instan. Narasi yang berlebihan justru dapat menimbulkan ekspektasi keliru di publik.
Dirakit di Indonesia vs Dikembangkan Secara Mandiri
Kesalahpahaman utama terletak pada perbedaan antara "diproduksi di Indonesia" dan "dikembangkan secara mandiri". Dalam industri manufaktur, istilah final assembly berarti produk dirakit dari komponen-komponen yang sudah tersedia. Rudal C-705 memang dirakit dan diintegrasikan di dalam negeri, sehingga secara fisik produk akhirnya keluar dari pabrik Indonesia. Namun, desain dasar, teknologi seeker radar atau pemandu rudal, serta mesin turbojet yang menjadi penggerak utama rudal, masih berasal dari China melalui perjanjian lisensi. Publik sering kali tidak memahami bahwa perakitan akhir bukan berarti seluruh komponen berasal dari dalam negeri. Berikut beberapa hal yang perlu dipahami:
- Perakitan dan integrasi sistem dilakukan di Indonesia.
- Desain dasar dan komponen kunci, seperti seeker radar dan mesin turbojet, diimpor dari China.
- Kerja sama dengan CASC dilakukan dalam bentuk lisensi dan transfer teknologi bertahap.
- PT Pindad mulai menguasai kemampuan modifikasi, pemeliharaan, dan upgrade rudal secara independen.
Ini menunjukkan bahwa progres yang dicapai bukanlah nol. Namun, kemampuan memodifikasi dan merawat rudal secara lokal adalah indikator kemajuan yang lebih realistis dibanding sekadar mengklaim produk tersebut sepenuhnya buatan dalam negeri. Proses penguasaan penuh terhadap teknologi rudal memerlukan waktu, investasi, dan sumber daya manusia yang terus menerus dikembangkan.
Soal Harga dan Skala Produksi
Disinformasi lainnya sering muncul pada isu harga rudal C-705. Ada klaim bahwa rudal ini lebih murah dibandingkan rudal serupa dari negara lain. Publik perlu melihatnya dari sisi ekonomi produksi. Ongkos produksi skala kecil melalui kerja sama lisensi belum bisa bersaing secara kompetitif tanpa adanya pesanan rutin dari TNI atau pihak lain. Ekonomi skala produksi masih menjadi tantangan besar bagi industri pertahanan Indonesia. Harga murah yang diklaim belum tentu mencerminkan biaya riil jika rudal diproduksi massal. Semakin sedikit unit yang diproduksi, semakin tinggi biaya per unitnya. Oleh karena itu, keberlanjutan program alutsista seperti rudal C-705 sangat bergantung pada komitmen pemesanan dan dukungan anggaran negara.
Dengan memahami konteks ini, masyarakat diharapkan tidak terjebak pada narasi yang berlebihan. Keberhasilan Indonesia merakit rudal C-705 adalah langkah maju dalam upaya membangun industri pertahanan, namun belum berarti kita telah sepenuhnya mandiri. Proses transfer teknologi dan penguasaan komponen kunci masih berlangsung secara bertahap. Ini adalah perjalanan panjang menuju kemandirian alutsista yang membutuhkan kesabaran, dukungan, dan pemahaman publik yang realistis. Jangan sampai euforia sesaat justru mengaburkan tantangan yang masih harus dihadapi.